Dunia “Diserang”   OBESITAS

Tiongkok  sangat khawatir akan masalah obesitas. Di negara itu diperkirakan sedikitnya 429 jutaatau sepertiga penduduknya menderita obesitas. Mereka pun berhadapan dengan berbagai ancamanpenyakit seperti penyakit jantung dan diabetes.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) pernah memperkirakan bahwa penduduk di dunia yaitu sekitar 1,6 miliar orang, usia di atas 15 tahun mengalami kelebihan berat badan (obesitas).  Pada tahun 2005 diperkirakan ada 400 juta orang dewasa mengalami obesitas. Dari hasil studi WHO, pada tahun 2015 diperkirakan lebih 700 juta orang dewasa akan mengalami obesitas.

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2008 menunjukkan bahwa 8,8% orang dewasa berumur di atas 15 tahun kelebihan berat (obesitas) dan 10,3%  gemuk. Sementara itu studi lain tahun 2009 menunjukkan bahwa prevalensi kelebihan berat (overweight) di negara maju juga akan meningkat. Misalnya di Jepang menjadi 23,2%, dan Amerika Serikat menjadi 66,3%. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia sebesar 13,4%, dan Arab Saudi 72,5%. Adapun prevalensi kegemukan di negara maju berkisar dari 2,4% di Korea Selatan hingga 32,2% di Amerika Serikat, sedangkan di negara berkembang berkisar dari 2,4% di Indonesia hingga 35,6% di Saudi Arabia.

Dari gambaran itu, banyak negara yang khawatir penduduknya akan menderita kegemukan, dengan konsekuensi atau dampak yang ditimbulkan begitu beragam, mulai dari masalah ekonomi, hingga kepada kebijakan politik negara.

Salah satu negara yang khawatir adalah Tiongkok. Di negara itu diperkirakan, sejumlah 429 juta atau sepertiga penduduknya adalah orang-orang yang menderita obesitas. Mereka pun berhadapan dengan berbagai ancaman penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes.

Hal yang sederhana tergambar di sebuah klinik penurunan berat badan di Tiongkok. Klinik yang disebut juga Kampus Bodyworks,dipenuhi oleh penduduk usia muda, terkadang masih anak usia sekolah dasar (7 tahun) sampai 55 tahun.

Mereka rela merogoh kocek masing-masing, paling tidak 30.000 Yuan (US$ 5.000) untuk menjalani program penurunan berat badan selama enam minggu. Di klinik itu. mereka mendapat asupan makanan berimbang dan latihan yang tertata dengan baik. Para peserta program itu harus mengikuti latihan atau berolahraga selama enam jam per hari. Bahkan mereka juga harus menjalani yoga,dan bermain sepakbola.

Menurut Zhang Fang (28 tahun), yang bekerja pada  Unicom, Provinsi Shanxi danmengikuti program di klinik itu, untuk masa tiga minggu pertama, bagi mereka yang baru mengikutinya akan terasa sangat berat. Bahkan ia pun sampai harus menangis dan mengutarakan semuanya kepada orang tuanya.

“Saya harus mengatakan kepada ayah saya kalau saya tidak sanggup menjalaninya. Tapi Ibu saya mengatakan kalau saya tidak melanjutkannya, maka upaya menurunkan berat badanya akan gagal. Ia menginginkan agar saya harus tetap sehat,” ujar Fang.

Ketika pertama kali bergabung di klinik itu, berat badan Fang 150 Kg, tekanan darah tinggi dan bermasalah dengan saluran pernapasannya, sehingga kalau berjalan terasa sakit. Tetapi setahun menjalani program di klinik itu, dan hasilnya luar biasa. Berat badannya turun 50 Kg. Ia pun tanpa ragu mengatakan kalau ia kini hanyalah gemuk dan bukan lagi tergolong berat badan super.

Gaya Hidup

Paling tidak pengalaman Fang menjadi contoh persoalan bagi hampir sebagain penduduk Tiongkok di kawasan perkotaan seperti Beijing dan Shanghai. Di kota-kota besar Tiongkok kini banyak dihuni warga yang berpenghasilan tinggi, dan gaya hidup kelas atas.

Paul French, penulis buku Fat China: How Expanding Waistlines are Changing a Nation mengemukakan, warga Tiiongkok banyak yang makin kaya, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar. Cara dan gaya hidup mereka pun disesuaikan dengan kehidupan modern saat ini, sama halnya terjadi di kota-kota besar lain di dunia ini.

Karena itu, tingkat penduduk yang menderita obesitas di Tiongkok juga meningkat 158 persen, dari tahun 1996 hingga 2006. Dan ini diperkirakan akan menjadi lebih tinggi lagi di masa depan. Itulah hasil penelitian guru besar pada Asosiasi Dokter Tiongkok, Ding Zongyi, yang mempelajari obesitas di negara itu lebih dari 30 tahun.

Dengan kata lain, meningkatnya berat badan, banyak juga diwarnai oleh perubahan gaya dan pola hidup. Tidak heran bila banyak pihak memperkirakan jumlah penderita obesitas meningkat dalam dua dekade ke depan, ungkap Barry Popkin, pada jurnal Health Affairs.  Popkin mengatakan, obesitas disebabkan mengkonsumsi banyak makanan gorengan, makanan berbahan dasar dari binatang, minuman manis dan terlalu sedikit makan sayuran. [JX/G. Edward]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here