Tahun 2016, Dorong Pertumbuhan di Berbagai Sektor (1)

Industri rumah tangga di Bandung, Jawa Barat. (foto: JX/Dok)

JAKARTA, JIA XIANG – Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat (AS) Rabu (30/12/15) ditutup pada Rp14.000 per dollar AS. Sementara data lain menyebutkan rupiah ada di posisi Rp13.795 per dollar AS, sedangkan sumber lain menyebutkan nilai tukar itu berada di kaisaran Rp13.695 – Rp13,820. Artinya semua posisi itu memperlihatkan rupiah melemah, di mana posisi sebelumnya memperlihatkan nilai tukar itu Rp13.740 per dollar AS.
Dalam kondisi nilai tukar seperti ini, sudah banyak imbauan agar pemerintah mengantisipasi berbagai dampak yang muncul, antara lain naiknya harga pangan. Sejauh ini Indonesia masih mengandalkan bahan pangan dari negara lain, alias impor seperti gula dan beras. Karena itu, sudah pasti terjadi melemahnya nilai tukar ini, pasti berdampak buruk bagi perekonomian di dalam negeri , terutama dihadapi kalangan bawah yang selalu menyoroti naiknya harga kebutuhan pokok.
Dan ternyata melemahnya nilai rupiah sepanjang tahun ini, yang selalu berada di kisaran Rp13.000 per dollar AS, dan bahkan sampai akhir bulan Desember, di penghujung 2015, kembali mencapai Rp14.000 per dollar AS. Buntut atau dampak jangka panjang dan pendek melemahnya rupiah sebenarnya sudah dapat diantisipasi pemerintah, tetapi entah mengapa, hingga akhir tahun ini pun kondisinya belum berubah.
Lalu dalam kondisi seperti ini, apa masih memungkinkan rencana swasembada pangan bisa tercapai? Mungkin yang diperhatikan masyarakat awam adalah pemerintah intervensi valuta asing supaya tidak terjadi inflasi. Dan jangan sampai kebijakan itu dilakukan oleh pemerintah menjadi sia-sia.
Sementara yang namanya operasi pasar, apakah masih mungkin dilaksanakannya. Contohnya, menjelang hari raya harga sudah melangit, operasi pasar yang digelar pemerintah, ternyata berlaku sesaat, harga terkendali. Tetapi selepas hari raya, harga menjadi tak terkendali. Bahkan beberapa komiditas terkesan lepas tanpa arah.
Pertanyaannya, apakah berbagai kebijakan di bidang ekonomi dan rencana-rencana kerja pemerintahan Joko Widodo bisa berjalan mulus di tahun depan? Beberapa waktu lalu Bank Indonesia memprediksi ekonomi Indonesia tahun 2016 masih menghadapi tantangan tersendiri. Bank Indonesia menilai inflasi di tahun 2016 berkisar di angka plus minus 4 persen. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen – 5,6 persen, dan pertumbuhan kredit antara 12 persen – 14 persen.
Di bagian lain Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 bisa mencapai 5,3 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun 2015 yang sebesar 4,7 persen.
Menurut salah seorang ekonom Bank Dunia permintaan komoditas dari Tiongkok akan meningkat. Namun demikian, permintaan ini setidaknya berdampak pada ekspor Indonesia sebagai penghasil komoditas. Bank Dunia menambahkan, ada empat hal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga tahun depan. (1) gejolak ekonomi global mempengaruhi harga komoditas. (2) investasi pemerintah harus ditingkatkan supaya bisa mendorong daya beli masyarakat.
(3) risiko gejolak pasar global akibat ketidakpastian naiknya suku bunga Amerika Serikat (Fed Rate) dan perlambatan ekonomi Tiongkok. (4) tekanan terhadap rupiah membuat daya beli masyarakat juga menurun. [bersambung]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here