“Warna” Politik pada Pernak-pernik Imlek

Hiasan Imlek.

BEIJING, JIA XIANG – Tahun Baru Imlek sudah dekat. Orang di Tiongkok sedang mempersiapkan untuk merayakan Imlek, salah satunya memasang aneka dekorasi seperti lentera, pita dan gulungan kaligrafi merah. Ternyata tulisan-tulisan pada gulungan kertas merah itu, harus mengikuti pedoman ketat yang ditetapkan oleh Partai Komunis Tiongkok.
Departemen Propaganda Pusat telah menginstruksikan para pejabat Partai untuk melihat dan mengatur kata-kata dalam puisi, pada gulungan kaligrafi yang isinya harus bersifat “menginspirasi warga” dalam meningkatkan kerajinan mereka dan menciptakan energi positif.
Pedoman yang harus dipatuhi oleh pemerintah kota dan kabupaten sudah disebarkan sejak akhir Desember lalu dalam dokumen yang diposting ke website dan akun media sosial dua pemerintah kota di Provinsi Henan.
Pedoman ini tampaknya menjadi sarana menegakkan kontrol ideologi dan budaya. Pedoman ini penting bagi pemerintah Tiongkok supaya warganya tidak menggunakan kata-kata dalam bait gulungan kertas atau spanduk Imlek itu mengandung isi yang menantang kebijakan resmi.
Kata-kata pada spanduk atau gulungan kertas merah yang selalu ada pada perayaan musim semi ini adalah bagian dari kemeriahan pada tradisi Tiongkok. Setiap baris berisi karakter Tiongkok dalam jumlah yang sama, yang biasanya bermakna pesan keberuntungan, kemakmuran, dan keinginan baik. Bila melihat ke sejarah ribuan tahun lalu, kata-kata yang terangkai dalam bait-bait itu diyakini mampu mengusir roh jahat dan mencerminkan harapan untuk tahun yang baru.
Biasanya spanduk bersisi kata atau bait-bait itu ditempatkan di bagian atas dan di samping pintu, serta sekaligus sebagai dekorasi berwarna-warni.
Selama Festival Lentera, yang jatuh pada akhir Tahun Baru Imlek, warga di Tiongkok sering menggantung lentera kertas merah dihiasi dengan jumbai kuning. Festival ini pada akhir perayaan Tahun Baru, dan tahun 2016 ini jatuh pada 22 Februari.
Di zaman kuno, biasanya banyak para sarjana terlibat dalam membuat kata-kata pada spanduk merah itu. Sekarang, spanduk ini ditulis dengan tinta emas pada kertas berwarna merah, dan diproduksi secara masal.
Sebenarnya secara tidak langsung Partai Komunis berusaha melenyapkan budaya tradisional-sekarang propaganda pemerintah sederhana, yaitu memastikan bahwa pesan-pesan mereka justru disampaikan melalui media-media tradisional. Misalnya, spanduk yang mencantumkan gambar pemimpin Mao Zedong dengan ayat-ayat berbunyi, On the Reddest Red Day, He is the Heaven’s Child, laku terjual melalui penjualan online pada Alibaba.
Namun bagi warga Tiongkok yang mencoba melanggar aturan soal baik-baik pada spanduk Imlek itu, dapat menemui masalah dengan pemerintah. Misalnya Wang, pemilik hotel di Nanjing, memiliki spanduk Imlek yang dipajang menutupi pintu masuk hotel dalam waktu yang lama, maka pemerintah setempat merampasnya, demikian laporan pejabat setempat soal kejadian di tahun 2014.
Bahkan baik-baik pada spanduk Imlek yang isinya bermakna politik, harus menghadapi perlakuan khusus dari pemerintah. Sebut saja Huang Yuhua, warga Desa Changjiang, di selatan Provinsi Guandong, memasang sepasang spanduk yang isi “Falun Gong, dan Kasih dan Sayang Sejati adalah Kebaikan-Dunia Tahu Falun Dafa adalah Kebaikan”, pada pintu rumahnya pada 27 Januari 2007. Menurut Minghui, org, polisi merobek spanduk itu dan kemudian menangkap Huang dan memenjarakannya. [JX/theepochtimes/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here